Modernisasi dan Gengsi
Oleh : Gmbun


Sadar atau tidak, entah sengaja atau tidak sengaja, kita membiarkan budaya asing mengubah pola hidup kita. Gaya hidup kita yang khas mulai menghilang. Ini fakta, karena kita membiarkan pengaruh kebudayaan asing masuk ke negeri kita. Terutama dalam hal-hala yang dekat dengan kita seperti sastra, musik, tari, mode, film, gaya hidup dan banyak sekali. Dalam dunia sastra kita mengenal novel pop, musik klasik, musik jaz, sampai dengan musik keras lama menguasai para pencinta musik kita. Tari balet , dansa sudah tidak asing lagi bagi kita orang indonesia. Mode pakaian , silih bergangi melanda kalangan kita. Gaya hidup memakai jin, pirang rambut, makan, minum bir, dan pergi ke salon menjadi sesuatu hal yang biasa bagi kita. Semua hal itu seolah-olah menjadi budaya kitasehari-hari.. Keadaan ini didorong oleh adanya suatu anggapan dari dikalangan kita bahwa sebelum kita praktekan salah satu dari budaya barat berarti kita bukan orang modern. Akhirnya secara psikologis kita takut untuk hilang harga diri dan martabat kita dikalangan mereka yang dekat dengan hal-hal tersebut. Kita gengsi dengan mereka. Artinya kita masih takut dikucilkan orang lain (teman-teman) karena dianggap tidak gaul atau tidak modern. Adanya hal-hal gengsi yang membuat kita melakukan hal tersebut. Kalau mau jujur, ketika kita berpikir seperti hal atas, sebenarnya kita sedang membohongi diri sendiri. Kita tidak berani mengakui eksistensi diri kita dan budaya bangsa kita. Keadaan ini sangat ironis sekali tatkala kita kehilangan identitas diri sebagai bangsa indonesia.

Sangatlah menarik untuk dijadikan bahan diskusi bahwa kalangan kita mungkin belum paham dengan istilah modernisasi dan westerenisasi. Yang kita cari modernisasi (pola berpikir produktif), tetapi yang kita gapai adalah westernisasi (pola berpikir komsumtif) dan kita kadang-kadang tidak sadar dengan keadaan itu. Keadaan ini mengajak kita untuk melihak secara jernih kebudayaan asing yang menimbulkan perubahan sikap mental yang terbatas pada pola atau gaya hidup yang konsumtif. Pola hidup produktif yang dituntut dalam kehidupan modern kadang-kadang kita samakan dengan westernisasi. Sungguh ironis sekali bahwa cara berpikir baru yang dituntut dalam kehidupan masyarakat modern yang melanda kehidupan kita sehari-hari, sedikit orang yang mengetahuinya. Sebenarnya, kalau kita bicara tentang orang modern berarti kita bicara tentang orang yang disiplin, bertanggungjawab, menghargai waktu, dan selalu berpikir kedepan. Bila diamati secara baik, budaya asing berpotensi mengubah cara berpikir, cara bekerja dan cara hidup kita. Ketiga aspek ini tidak semuanya adalah negatif dan dan juga tidak semuanya positif. Dengan demikian, dibutuhkan kekritisan kita untuk melihat hal-hal yang berpotensi mengubah cara hidup kita. Cara hidup kita yang lebih cepat berubah daripada cara berpikir atau cara bekerja. Sungguh mengkhawatirkan bila dalam kehidupan seseorang lebih dahulu mengubah konsumsinya, sebelum ia mengubah apa yang dihasilkan, bahkan sebelum kita mengetahui cara baru untuk menghasilkannya. Ini merupakan kenyataan yang kita hadapi sekarang. Kenyataan akibat ketidakselektifan kita. Kenyataan ini harus ada dan tidak kita menentang. Apalagi budaya asing yang mampu memperkaya budaya bangsa indonesia, harus kita terima. Namun yang sesuai dengan unsur-unsur dan norma-norma budaya kita. Dalam hal ini ada satu sikap yang penting, yaitu mengakui keberadaan kita, budaya kita, bangsa kita dengan ciri khasnya. Kita masih belum berani (gengsi) mengakui kebudaayaan sebagai rumah bangsa kita, bisa-bisa bangsa dan segala isinya kita jual.

Tulisan ini hanyalah sebagai pengingat bagi kita yang katanya kritis dalam menanggapi persoalan sosial kemasyarakatan. Setidaknya tulisan ini bisa dibuat sebagai bahan renungan dalam menuju indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang.



Home